Rabu, 01 Januari 2014

2013: Heboh karena dua garis



Waaahhhh rasanya waktu cepat sekali berlalu dan hari ini menjadi hari pertama di tahun 2014. *tiup terompet*

Banyak sekali hal yang terjadi di tahun 2013 ini dan yang paling berkesan buat saya adalah... Hamil anak ketiga.

Jadi ceritanya saya dan yayah -suami saya- sejak memiliki anak pertama sudah berkomitmen untuk memberikan jarak lahir 4 tahun untuk anak- anak kami, kakak ke adik dan ke adiknya lagi dan seterusnya.
Saya nggak mau membatasi berapa jumlah anak yang akan kami miliki, saya hanya berencana untuk membatasi jarak lahirnya saja. Tujuannya supaya saya bisa memaksimalkan perhatian dan kasih sayang untuk si kakak sebelum adiknya lahir karena setelah adiknya lahir, otomatis fokus saya akan beralih pada si adik. Dan juga supaya saya tidak terlalu kerepotan mengurusi anak- anak yang masih terlalu kecil.

Tapi manusia hanya bisa berencana, sementara Allah-lah Yang Maha Kuasa.

Hana lahir bulan Mei tahun 2012, dan pada bulan Agustus tahun 2013, saya mendadak terlambat haid sampai beberapa minggu.

Oh, no.

Untuk informasi, Hana adalah anak yang sangat aktif, sangat lincah, sangat pintar.
Saya sangat kewalahan dibuatnya, apalagi saya jauh dari orang tua dan tidak punya PRT.
Jadi, saya benar- benar belum siap kalau sampai hamil lagi.

Kemudian saya memberanikan diri membeli test pack.
Hari pertama hasilnya positif.
Shock? Jelas.
Saya berusaha menepiskan kenyataan itu dengan membeli test pack lagi, berharap hasilnya negatif dan beberapa hari kemudian saya haid.
Dan tes urin dengan test pack kedua di keesokan paginya hasilnya adalah... Positif.

Saya langsung membangunkan yayah pagi itu lalu menunjukkan dua garis yang tertera di test pack, tanda kalau saya positif hamil.

Lalu respon yayah apa? Dia bersyukur dan sangat gembira.
"Alhamdulillah...," begitu ucapnya.
Saya mengingatkan lagi tentang komitmen kami untuk memberi jarak lahir empat tahunan pada anak- anak.
Dan yayah malah menceramahi saya bahwa saya seharusnya bersyukur karena ini adalah rezeki dari Allah.

Saya sangat terpuruk, sedih. Saya benar- benar belum siap mental untuk hamil lagi. Saya juga masih trauma dengan kelahiran Hana yang melalui proses normal- induksi, karena masih bisa saya rasakan rasa sakitnya.
Saya membayangkan kerepotan mengurus dua anak dan satu bayi, tanpa PRT dan jauh dari orang tua.
Yayah berusaha membesarkan hati saya.
"Sudah, jangan pikirkan bagaimana nanti, kita jalani saja sebaik- baiknya."
Yayah juga berjanji akan membantu mengerjakan pekerjaan rumah lebih sering lagi dan kalau perlu, kami akan menggunakan PRT dengan sistem kerja-beres-pulang.

Saya mengadu kepada Yang Maha Membolak- balikkan Hati.
Saya mengambil wudhu lalu sholat Dhuha.
Saya meminta agar saya bisa ikhlas dan bersyukur dengan amanah ini.
Saya juga meminta agar selalu diberi kekuatan dan kesabaran dalam mengasuh kedua anak kami meski dalam keadaan hamil.

Saya tidak boleh seperti ini terus, saya harus bangkit dan merawat janin yang sedang tumbuh ini, tanpa ada penolakan terhadap dirinya, karena saya takut emosi saya akan mempengaruhi perkembangannya. Bagaimanapun, saya tidak membencinya atau menolak kehadirannya, saya hanya belum siap dan butuh waktu untuk menerima semua ini.

Saya membuka mata. Masih banyak disekitar saya, teman- teman dari dunia nyata maupun maya, banyak yang mendambakan karunia ini, bahkan harus menanti sekian tahun hingga doa mereka terkabul. Sedangkan saya? Allah menganugerahi kepada saya karunia yang mereka idam- idamkan, karunia yang didambakan oleh setiap wanita, tapi reaksi saya seperti ini. Sungguh sikap yang tidak pantas.

Saya pun ber istighfar. Dan mulai melihat segalanya dengan lebih baik.
Lalu bantuan Allah datang...
Di Batam, menyewa PRT termasuk hal yang sulit, tapi alhamdulillah saya berhasil mendapatkan PRT dengan sistem kerja-beres-pulang.
Yayah pun menepati janjinya. Dia banyak membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah, lebih dari yang saya harapkan darinya.
Kehamilan saya pun tidak begitu rewel, bahkan morning sickness di awal kehamilan tidak terlalu saya rasakan.
Segalanya menjadi lancar dan berbeda dari bayangan saya sebelumnya.

Saya bersyukur sekali bisa cepat bangkit dari keterpurukan dan berhasil mengatasi kelabilan emosi saya di awal kehamilan.

Jadi, something special saya di tahun 2013 adalah:
Hamil, shock, terpuruk, dan bangkit untuk merawat kehamilan ini dengan sebaik- baiknya.

Kini kehamilan saya sudah berusia hampir 6 bulan, dengan tendangan- tendangan kuat dari janin yang sedang tumbuh didalam rahim saya yang membuat perasaan saya membuncah bahagia.
Aku percaya, manusia boleh merencanakan kehidupannya dengan seindah dan sesempurna yang mereka inginkan, tapi bagaimanapun juga rencana Allah jauh lebih indah untuk kita karena Dia-lah Yang Maha Tahu.


"Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Something Special on 2013 by @meifariwis"

3 komentar:

  1. mbak aku bacanya antara tertawa dan senang
    akhirnya Allah memberikan amanah yg berlebih
    semangat mbaaak
    sukses ya
    makasih sudah join di GAku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga berkenan dg tulisan gk jelas ini :D
      Makasih sudah berkunjung :)

      Hapus
    2. iih lucu kali bak, aku suka hehehe

      Hapus